PENCARIAN LOSSES MINYAK DI SPBU

chmood

A. LOSSES SPBU KAITANNYA DENGAN  ANGKUTAN TRUK BBM


Sering terdengar komplain oleh SPBU terhadap kekurangan penerimaan BBM
yang berkaitan dengan pelayanan yang buruk oleh awak mobil angkutan BBM.

Bagaimana Hal ini dapat terjadi?
Beberapa Tehnik kecurangan oknum supir dan /atau kernet mobil tangki
terhadap SPBU:

1. Memainkan Kran Angin mobil tangki dengan cara menutup Kran Anginnya
yang umumnya terletak disamping kanan luar belakang supir tangki BBM
sesaat sebelum pembongkaran BBM di SPBU selesai. Hal tersebut akan
mengakibatkan tertahannya sisa minyak BBM yang berada di dalam tangki
BBM walaupun mobil BBMnya telah di tongkang dengan menggunakan
landasan yang menanjak.

2. Meletakkan Jerigen yang dimodifikasi sedemikian rupa (mirip ayunan di
dalam tangki BBM) sehingga dapat termuat di dalam tangki BBM. Hal ini
berfungsi sebagai kompartemen kecil yang berada di dalam tangki angkutan
BBM sehingga menahan/menampung BBM sehingga tidak dapat keluar dari
tangki BBM walaupun mobil truk tangkinya telah di tongkang dengan
menggunakan landasan tanjak.

3. Menggunakan selang khusus pada tangki BBM yang terhubung dengan media
penyimpanan kecil baik berupa jerigen ataupun botolan air mineral yang
telah dikosongkan yang diletakkan di dalam kendaraan/ di belakang kursi
supir/kernet.

4. Khusus pada mobil angkutan BBM jenis solar; menghubungkan tangki
angkutan mobil BBM dan Tangki bahan bakar mobil angkutan BBM itu sendiri
dengan menggunakan selang kecil. Hal ini akan mengakibatkan mengalirnya
BBM dari tangki pengakut BBM mengisi tangki BBM mobil angkutan BBM.

5. Meletakkan kain semacam handuk ke dalam tangki angkutan BBM. Hal ini
akan mengakibatkan tertahannya aliran BBM keluar dari dalam tangki
angkutan BBM.

6.  “Kencing di jalan”, istilah ini menggambarkan proses pencurian BBM yang
dilakukan pada saat mobil tangki BBM telah keluar dari depot/instalasi dan
sedang menuju ke SPBU. Hal ini dilakukan dengan cara konvensional
mengeluarkan BBM dari angkutan tangki BBM dengan cara memutus segel
bawah kran pengeluaran BBM atau segel atas man hole tangki BBM. 
Hal ini patut dicurigai apabila toleransi waktu tiba mobil tangki telat atau diluar
waktu sewajarnya.

7.  “Minyak titipan/pesanan khusus”, misalkan SPBU A akan dikurangi
minyaknya sejumlah 200 liter dari Delivery Order 8.000 liter, sehingga SPBU
A hanya mendapatkan 7.800 liter, SPBU B mendapat tambahan minyak
sebesar 200 liter sehingga SPBU B akan menerima kelebihan minyak
sebesar 200 liter dari DO 8.000 liter dengan total 8.200 liter. Hal ini Dapat
terjadi apabila SPBU A memberikan sedikit uang pengantar faktur ke
supir/kernat dan mendapat lebih uang pengantar faktur pada SPBU B. Modus
ini juga tidak akan dapat terlaksana apabila tidak ada kerjasama dengan
orang dalam pengisian BBM ke mobil tangki (Filling Station Depot/Instalasi).

Istilah uang pengantar faktur sebenarnya tidak ada di dalam aturan tetapi
karena banyaknya BBM SPBU yang disunat oleh oknum nakal supir/kernet
maka uang pengantar faktur tetap diadakan oleh SPBU walaupun buntut-
buntutnya minyak SPBU tetap disunat juga.

8. Bekerja sama dengan petugas SPBU dengan system bagi hasil. Awak supir
akan menawari pengawas SPBU sejumlah imbalan uang asalkan pengawas
SPBU tidak melakukan pembongkaran seluruhnya, misalkan dengan
menyisakan sejumlah 1000 liter BBM/BBK pada mobil tanki.

B. PERHITUNGAN GAIN/LOSS
Gain/Loss adalah selisih stok akhir real BBM dibandingkan dengan stok akhir
teoritis dalam periode 1 bulan pembukuan. Nilai yang diperoleh dari perhitungan
selisih tersebut mungkin + (Gain) atau – (Loss).

Rumusnya adalah :
Gain/Loss = (stok real akhir – stok teoritis)
> Stok akhir real diperoleh dengan melakukan pengukuran pada setiap tangki
pendam BBM, untuk mengetahui sisa stok yang ada.

> Stok akhir teoritis diperoleh dari stok akhir real bulan sebelumnya ditambah
dengan jumlah penerimaan BBM dari Pembelian kemudian dikurangi
penjualan.

Secara matematis stok akhir teoritis dapat dituliskan sebagai berikut:
Stok akhir teoritis = (Stok akhir real bulan sebelumnya + Penerimaan BBM) –
Penjualan
Cara yang umum digunakan untuk menilai besar/kecilnya gain/loss ini adalah
ditentukan dengan nilai persen (%). 

Persentase ini diperoleh dari pembandingan
nilai gain/loss dalam liter terhadap jumlah penjualan dalam liter kemudian dikalikan
100.


Rumusnya adalah:
Gain/Loss = (Gain/Loss / Penjualan) x 100
Toleransi yang dianjurkan untuk gain/loss adalah 0,5%. Jika gain/loss SPBU kita
melebihi dari nilai di atas, maka dianggap ‘tidak normal’.

Ilustrasi perhitungannya adalah sebagai berikut, jika diketahui:
Diketahui :

- Stok akhir real bulan sblmnya = 8.000 liter
- Jumlah penerimaan = 32.000 liter
- Jumlah penjualan = 33.000 liter
- Stok akhir real bulan ini = 6.800 liter

Kita hitung terlebih dahulu Stok akhir teoritis dengan rumus :
Stok akhir teoritis = (Stok akhir real bulan sebelumnya + Penerimaan BBM) –
Penjualan
Stok akhir teoritis = (8.000 + 32.000) – 33.000
Stok akhir teoritis = 7.000 liter
Untuk mengetahui jumlah gain/loss dalam liter
Gain/Loss = (stok real akhir – stok teoritis)
Gain/Loss = 6.800 – 7.000
Gain/Loss = -200 liter (dalam hal ini berarti Loss yang diperoleh)

Untuk mengetahui persentasinya
Gain/Loss = (Gain/Loss : Penjualan) x 100
Gain/Loss = (-200 : 33.000) x 100
Gain/Loss = -0.60 % (melebihi batas toleransi -0.5%)

Untuk mempersingkat perhitungan Gain/Loss dalam liter bisa juga menggunakan
rumus berikut:
Gain/Loss = Stok akhir real –  ((Stok akhir real bulan sblmnya + Penerimaan) –
Penjualan)
FAKTOR PENYEBAB LOSSES
Secara umum, ada tiga kategori faktor penyebab losses, 
yaitu: faktor alam,
faktor teknis, dan faktor manusia.
Faktor Alam
Seperti yang kita tahu, suhu dan tekanan merupakan faktor yang kuat dalam
mempengaruhi kualitas dan kuantitas BBM, dalam hal ini BBM jenis premium.

Setiap perubahan suhu 1oC akan mempengaruhi 0,12% dari volume BBM tersebut
dan mempengaruhi 0,001 –  0,003 dari massa jenisnya, dan tekanan yang kuat
akan lebih mempercepat proses penguapan. Suhu dan tekanan tidak dapat
dipisahkan, karena setiap kenaikan suhu akan membuat tekanan bertambah. 

Hal ini bisa terlihat dari jenis bahan bakar lain yang lebih ringan, misalnya gas dalam
tabung, yang akan meledak jika dipanaskan.

Bagi seorang pekerja di SPBU seperti saya, bau bensin dan bau solar 
(bau keduanya sama-sama melekat) sudah menjadi santapan tiap hari, terutama pada
saat proses bongkar BBM (lossing). 

Biasanya, saya ditemani oleh seorang asisten dalam proses ini, tugasnya adalah memasang peralatan lossing seperti selang 4″,
leher angsa, mulut babi, dan membuka kunci pada setiap dombak yang akan diisi.
Sedangkan tugas saya adalah memeriksa kualitas dan kuantitas dari muatan BBM
pada tangki tsb.

Untuk mengukur kuantitas BBM dari mobil tangki, yang saya tahu, ada 4 macam
alat yang biasa digunakan, yaitu:

1. Salib ukur
Salib ukur ini berbentuk 2 ‘penggaris’ pada umumnya dimana tertera skala
(biasanya dalam cm) pada masing-masing penggaris. Hanya saja salah satu dari
 ‘penggaris’ itu mempunyai bentuk seperti sepatu. Untuk dapat menggunakan
salib ukur, kita harus menyilangkan kedua penggaris pada dudukan yang telah
disediakan sehingga menyerupai salib.
Metode yang digunakan jika kita menggunakan salib ukur adalah dengan
mengukur jarak t1 terhadap permukaan minyak. 

t1 adalah jarak dari bibir
lubang tangki (manhole) terhadap ijk bout. Ijk bout merupakan penunjuk
dimana permukaan minyak seharusnya berada. Posisi Ijk bout ini ditentukan
oleh Dinas Metrologi pada saat dilakukannya tera tangki, dan untuk mencegah
agar posisi ijk bout tidak berubah naik/turun, Dinas Metrologi akan
memasangkan segel timah pada ijk bout tersebut.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan salib ukur adalah:

- mengetahui nilai t1 tangki mobil dari buku TUM (Tangki Ukur Mobil) yang
dikeluarkan oleh Dinas Metrologi

- mengetahui nilai kepekaan tangki mobil dari buku TUM (Tangki Ukur
Mobil) yang dikeluarkan oleh Dinas Metrologi

- mengetahui tebal tutup tangki (dilakukan dengan melakukan pengukuran
sendiri secara manual)

- menggunakan waterpass untuk mendapatkan posisi datar pada tutup
tangki pada saat pengukuran.

2. Tongkat ukur
Tongkat ukur ini mirip dengan tongkat yang digunakan untuk dipping,
hanya saja ukurannya lebih pendek, karena disesuaikan dengan tinggi tangki
mobil pada umumnya. 

Pada bagian tongkat tertera skala dalam cm dan terdapat sebuah klem sebagai penunjuk dimana posisi minyak seharusnya
berada.
Metode yang digunakan jika kita menggunakan tongkat ukur adalah dengan
mengukur jarak t2 terhadap permukaan minyak. 

t2 adalah jarak dari dasar
tangki terhadap ijk bout. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan
tongkat ukur adalah:

- mengetahui nilai t2 tangki mobil dari buku TUM

- mengetahui nilai kepekaan tangki mobil dari buku TUM

- memastikan dasar tangki tidak penyok, atau tidak terdapat tumpukan
karat, yang akan mengurangi keakuratan hasil pengukuran

memastikan posisi tongkat ukur agar berada tegak lurus terhadap dasar
tangki, karena ini juga akan mempengaruhi hasil pengukuran.

3. Flowmeter
Flowmeter adalah alat yang digunakan untuk mengetahui nilai kuantitas
BBM pada proses lossing dengan cara membaca arus yang melalui corong pada
flowmeter tersebut.

Menggunakan flowmeter lebih gampang dan tidak memerlukan perhitungan,
seperti dua methode yang telah dituliskan di atas. Kita hanya harus
memasangkan flowmeter pada kran tangki dan membaca hasilnya pada saat
proses lossing selesai.

Namun, menurut keterangan yang saya dengar dari teman-teman yang
menggunakan flowmeter (saya sendiri belum pernah menggunakan alat ini),
 jika dalam 1 kompatemen terdapat 8.000 liter BBM, maka pada saat proses
lossing selesai (sisa BBM mencapai ratusan liter), flowmeter sudah tidak bisa
lagi membaca arus BBM yang dikeluarkan. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh
faktor gravitasi.

4. ATG (Automatic Tank Gauge)
Yang ini lebih canggih lagi. ATG adalah perangkat terintegrasi, di dalamnya
terdapat alat pengukur suhu, pengukur permukaan minyak, dan juga (kalau
tidak salah) pengukur tekanan. Semua alat-alat tersebut ditanam di dalam
tangki pendam SPBU dan dibaca secara digital untuk kemudian hasilnya dikirim
ke sebuah layar dan atau printer. 

ATG bisa memberikan data suhu, stok, dan
pressure secara realtime.
Sebelum proses lossing, petugas hanya perlu mengeluarkan struk dari
printer ATG yang mencatat posisi awal stok sebelum lossing. Pada saat proses
lossing selesai, petugas kembali mengeluarkan struk dari printer ATG untuk
mengetahui stok setelah lossing dan menghitung selisihnya untuk mengetahui
berapa jumlah BBM yang masuk ke tangki pendam bersangkutan.

Sedikit yang kami tahu:

- utk lokasi, cari di sepanjang jalan /rute provinsi…dimana yg sering dilalui
bis dan truk. terserah mo beli SPBU bekas ato bikin SPBU baru.

- klo bikin baru, cari mesin pompa yg second aza asal pinter2x milih kondisi
(lebih baek ajak org yg brpengalaman).

- kewajiban punya genset.

- bikin kerjasama dengan armada truk dan bis, misal model bayar telat dan
 jaminan stok biosolar.

- fasilitas sperti mushola, toilet yg bersih dan kantin itu wajib, sukur2x ada
tempat sederhana untuk tidur2xan sopir ato klo ada modal lebih tambahkan
fasilitas penjucian kendaraan.

- jasa keamanan dengan polres sekitar dengan bentuk kerjasama gratis
BBM mobil patroli polisi (200rb per bln cukup^^).

cari 2 org pgawai super jujur, 1 manager operasional dan staff untuk cek
truk bongkar muat BBM dari pertamina.

- jangan curang dengan ukuran literan dan oplosan.

- jika memang perlu, lakukan kerjasama dengan pom2x sekitar dlm bentuk
saling menjaga stok BBM.

- untuk stok maupun jumlah mesin pompa….80% solar 20% premium.
asumsi tsb target keuntungan didapat dr solar. untuk premium hanya bentuk
keuntungan tambahan aja.

- jgn buang modal untuk stok produk dr pertamina misal pelumas dll, cukup
 jadikan syarat display aja.

- fasilitas gratis untuk para sopir truk dan bis (sopir langganan) sperti kaos
dan air minum gratis. untuk kaos klo bisa sebagai media promosi berjalan pom
bensin.

- berikan bonus2x di hari besar pas natal ato hariraya spert parcel atau
bentuk uang (terserah)…kepada langganan kita.

- manager operasional kudu wajib punya skill sosial yg tinggi, kepada para
langganan dan penduduk sekitar.

- sering2x sumbang dana untuk tambahan kegiatan masyarakat sekitar
misalnya acara 17 agustusan.

- sisanya tergantung kreatifitas aja dah, silahkan klo mo nambahin.
walaupun tampak mudah tetapi prakteknya bisnis ini cukup kompleks, tidak
cukup bermodalkan duit semata, banyak org berduit yang melepas bisnis SPBU.

C. T1 dan T2 TUM

Penasaran dengan losses yang tinggi, saya coba melakukan pengukuran Tangki
Ukur Mobil (TUM) BBM menggunakan T1 dan T2 secara bersamaan. Maksud dari
pengukuran tsb adalah untuk mengetahui posisi ijk bout TUM apakah benar-benar
sesuai dengan yang tercantum di buku tera TUM ybs.

Kebetulan, tanggal 07 Maret 2012 kemaren ada kiriman BBM produk Premium
dan Biosolar masing-masing 8KL. Singkat cerita, BBM dikirim oleh mobil dengan
nopol B92**UU kapasitas 32KL, alokasi BBM untuk spbu kami adalah komparteman
I produk Biosolar, dan kompartemen IV produk Premium.

Dengan melihat buku tera TUM, diperoleh data-data sebagai berikut:

I II III IV
T1 135 138 131 153
T2 1627 1618 1633 1610
T3 20 20 20 20
Peka 0.3 0.3 0.3 0.28

kami kehilangan 11.000 liter BBM karena kebocoran pada pipa. Akhirnya pipa besi
diganti dengan pipa dari semacam plastik fleksible dengan alasan lebih tahan
korosi.

Untuk melakukan test apakah instalasi pipa mengalami kebocoran atau tidak,
ada beberapa langkah mudah yang harus dilakukan:

1. tentukan terlebih dahulu jalur mana yang diduga mengalami kebocoran,
kemudian ketahui jalur tersebut menghubungkan tangki pendam yang mana,
ke dispenser unit yang mana.

2. hentikan penjualan yang dilayani oleh dispenser unit bersangkutan.

3. ukur stok BBM di tangki pendam, tapi sebelumnya biarkan selama 10 – 15
menit agar permukaan BBM di dalam tangki pendam benar-benar diam tanpa
ada riak gelombang, kemudian catat hasil pengukurannya.

4.  jalankan pompa pada tangki pendam dengan cara enarik/mengangkat nozzle
pada dispenser hingga menunjukkan angka 0, lalu biarkan selama 5 – 10
menit. Proses ini akan mengalirkan BBM dari tangki pendam ke mesin
dispenser. Jangan mengeluarkan BBM dari nozzle, biarkan saja nozzle
tergeletak, hal ini mungkin akan menyebabkan dispenser berbunyi bip
berulang-ulang.

5. hentikan mesin pompa dengan cara kembalikan nozzle pada tempatnya
(dispenser unit) sehingga dispenser kembali pada posisi semula (idle).

6. diamkan selama 10 –  15 menit sehingga permukaan BBM pada tangki
pendam benar-benar dalam posisi diam dan tidak ada riak gelombang.

7. ukur kembali stok BBM di tangki pendam dan bandingkan dengan hasil
pengukuran awal yang disebutkan pada langkah ke 3.
Jika terdapat selisih dalam pembandingan hasil pengukuran awal dengan hasil
pengukuran akhir, maka dapat dipastikan bahwa pipa jalur mengalami kebocoran.

- tangki pendam
Cara pertama untuk mengetahui kebocoran pada tangki pendam adalah dengan
mengambil sample air yang terdapat pada sumur pantau. 

Logikanya, jika tangki
pendam mengalami kebocoran, BBM akan meresap ke dalam tanah dan resapan ini
akan tertampung dalam sumur pantau. 

Karena massa jenis BBM lebih kecil dari
massa jenis air (massa jenis air =1; massa jenis premium = 0,7; massa jenis solar
= 0,8) maka BBM akan mengapung di atas air. Untuk itulah perlu diambil sample
air dari sumur pantau dan dilihat apakah terdapat lapisan BBM pada
permukaannya.

Cara kedua adalah dengan mengetahui kadar air dalam tangki pendam. Jika tangki
pendam mengalami kebocoran, air di dalam tanah akan dengan mudah masuk ke
dalam tangki pendam. Cara untuk mengukur kadar air adalah dengan
menggunakan pasta air.

- pipa saluran filling pot ke tangki pendam (pipa lossing)

Setiap tangki pendam biasanya memiliki satu filling pot atau pipa lossing. 

Pipa lossing ini merupakan saluran masuk BBM dari mobil tangki pada saat penerimaan
BBM. Cara untuk mengetahui kebocoran pada pipa lossing adalah sebagai berikut:

1. buka sambungan pipa lossing dengan tangki pendam, biasanya di atas
manhole tangki pendam terdapat sambungan pipa dari pipa yang keluar dari
dalam tanah dengan pipa yang menjulur masuk ke dalam tangki pendam.
Nah, sambungan ini-lah yang dibuka.

2. tutup ujung pipa yang keluar dari dalam tanah dengan plendes yang dilapisi
paking karet dan pastikan tutup plendes ini terpasang dengan baik tanpa
mengeluarkan tetesan BBM sedikit pun.

3. isikan BBM ke dalam pipa lossing (dari filling pot) hingga BBM meluap keluar
dari filling pot bertanda pipa lossing telah terisi penuh.

4. tutup dan biarkan untuk beberapa lama (1/2 – 1 hari).

5. periksa apakah permukaan BBM pada filling pot berkurang atau masih dalam
kondisi penuh. Pada kondisi normal tanpa kebocoran, BBM mungkin akan
berkurang sedikit saja karena pengaruh suhu dan penguapan.

b. Tera
Tera adalah takaran pengeluaran nozzle yang biasanya di ukur dengan
menggunakan bejana 20 liter yang telah disertifikasi oleh Dinas Metrologi. Dari
hasil pengeluaran nozzle sebanyak 20 liter ke dalam bejana akan terlihat nilai
pengeluaran sebenarnya.

Toleransi takaran yang dianjurkan untuk SPBU Pasti Pas adalah 0, namun dalam
kenyataannya -60 ml/20 liter adalah batas maksimal yang diperbolehkan. 

Tera dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan disaksikan oleh petugas dari Dinas
Metrologi, dan dengan biaya yang lumayan tinggi.

Pada kondisi Tera mesin yang tidak stabil, bisa terjadi loncatan Tera dari
-30/20 ke 0/20 s.d. +30/20. Misalkan saja penjualan dari 1 nozzle dengan nilai
Tera tersebut mencapai 8.000 liter, berarti kita hanya kehilangan sebanyak 12 liter
saja.

Tapi, yang namanya mesin memang tidak bisa ditebak dan tidak bisa dipaksa untuk
terus konsisten.

Walupun kita telah melakukan setting Tera ke nilai -, namun menurut
keterangan dari teman-teman di SPBU lain, mesin dispenser tertentu memiliki
kecenderungan untuk berubah Tera-nya ke nilai +. Belum lagi teknik pengeluaran
BBM-nya itu sendiri, apakah melalui preset atau manual. 

JIka anda melihat berkas
laporan hasil audit Intertek, terdapat salah satu lembaran yang memuat hasil Tera
dari nozzle yang diuji (minimal 50% dari jumlah nozzle yang ada). Disitu tertulis
dua nilai untuk 1 nozzle yang di tes, yaitu preset dan manual. 

Perlu diketahui,
bahwa pengeluaran nozzle dengan methode manual cenderung memberikan nilai 
(-) yang lebih kecil daripada dengan methode preset, jika kedua methode ini

digabungkan dengan teknik pengaturan speed pada nozzle. Yang dimaksud
pengaturan speed pada nozzle adalah banyaknya keluaran BBM dari besar kecilnya
bukaan klep di dalam nozzle.

Satu hal yang sangat penting adalah pengaturan speed di nozzle pada saat
pengeluaran BBM. Mungkin teman-teman juga sudah mengetahui, bahwa untuk
BBM jenis Premium, untuk memperoleh nilai (-) yang minimal, speed pengeluaran
BBM pada nozzle harus di set rendah atau lambat. Sedangkan untuk BBM jenis
Solar/Bio Solar, pengeluaran BBM pada nozzle harus di set tinggi atau cepat.

Tindakan ini bisa digunakan pada saat menghadapi Audit yang dilakukan oleh
Intertek, supaya hasil keluaran nozzle cenderung memiliki nilai (-) yang rendah.
Jika anda masih bingung, akan saya berikan rumusnya sbb:

- Premium : speed rendah + manual terlebih dahulu

- Solar : speed tinggi + manual terlebih dahulu
Hal lain yang menentukan besar kecilnya nilai Tera adalah seberapa sering
nozzle yang diuji digunakan oleh operator. Semakin lama nozzle tidak digunakan,
semakin besar kemungkinannya untuk mengeluarkan BBM dalam nilai (-) yang
tinggi. 

Ini dikarenakan BBM pada selang nozzle dan di dalam mesin mengalami
penyusutan, akibat jarang digunakan sehingga ruangan terisi oleh angin. 

Cara terbaik untuk menjaga nilai Tera agar stabil adalah dengan melakukan test rutin
dan melakukan pengaturan ulang jika didapat nilai Tera yang mengalami
perubahan ke (+) atau (-).
Kondisi Tera seperti yang dijelaskan di atas, juga berlaku untuk Depot pengisian.

Seperti yang kita tahu, Depot juga menggunakan mesin dispenser, hanya saja
bentuk, ukuran dan mekanismenya berbeda. Maksud saya, apakah keluaran dari
filling point depot benar-benar 8.000 liter/kompartemen? Kalau lebih, sih, tidak jadi
masalah. 

Yang jadi masalah’kan kalau kurang? Toleransi untuk SPBU saja 60 ml
 /20 liter atau -0,3%…. lalu toleransi untuk depot pengisian berapa? Oleh karena itu,
seharusnya ada proses Audit juga untuk depot pengisian, jangan cuma SPBU saja
yang di Audit.

3. Faktor Manusia
Jika kita telusuri dari awal, proses distribusi BBM hingga sampai ke konsumen
adalah sebagai berikut: Depot – Transportir – SPBU. Berapa banyak manusia yang
dilibatkan untuk menyelesaikan proses tersebut? yang jadi kendala utama adalah,
yang namanya manusia ada saja yang berbuat “nakal” dan kita tidak  tahu pasti
pada proses yang mana “kenakalan” itu terjadi.
Keterangan yang saya tulis dibawah ini adalah bentuk “kenakalan” pada
umumnya, ada yang benar-benar terjadi, ada juga yang belum. Tapi ini patut
menjadi bahan masukan dan dicari tindak lanjut penyelesaiannya.

Depot
Dengan semakin canggihnya teknologi saat ini, keterlibatan manusia dalam
proses pengisian BBM ke mobil tangki dibatasi. 

Sekarang, tidak ada lagi petugas
pengisian di Depot, para sopir/kernet yang akan mengisi mobil tangki tinggal
menekan tombol tertentu di filling point dan otomatis BBM akan tercurah senilai
8.000 liter pada setiap kompartemen mobil tangki mereka. Namun, katanya (baru
katanya, lho) keluaran BBM dari filling point depot tersebut masih bisa dirubah/di
set oleh petugas yang berada di kontrol room Depot. 

Nah, lho?…….
Caranya, sebelum melakukan pengisian, para sopir/kernet akan menghubungi
kontrol room (atau sebaliknya, kontrol room menghubungi sopir/kernet) dan sim
salabim…. kapasitas pengeluaran BBM pada filling point pun sesuai dengan yang
mereka kehendaki.

Bagi anda pekerja SPBU, pernahkah anda mendapati mobil tangki yang
membawa BBM ke SPBU anda dalam kondisi yang penuh pada setiap
kompatemennya? (mereka menyebutnya dengan istilah “stok”). 

Saya pernah mendapati mobil tangki dengan stok sebanyak 200 liter/kompartemen, total 400 liter!!!! dan mereka (sopir/kernet) meminta pihak SPBU untuk membayar stok 400
liter tersebut senilai Rp. 1.200.000,- Ketika ditanya dari mana stok sebanyak itu,
mereka menjawab ini titipan “orang dalam”. “Kenakalan” lainnya adalah, mereka
memotong kapasitas BBM yang akan dikirim ke SPBU. 

Modusnya begini:
- mobil A akan mengirim BBM ke SPBU C, dengan tips (uang curah, DB, uang
makan) yang rendah atau bahkan tidak ada tips sama sekali.

- mobil B akan mengirim BBM ke SPBU D, dengan tips yang besar (> Rp.
50.000)

- mobil A akan memotong kapasitas keluaran BBM di filling point, yang
seharusnya 8.000 liter/kompartemen menjadi, misalkan, 7.900
liter/kompartemen.

- mobil B akan diisi sebanyak 8.000 liter/kompartemen + 100
liter/kompartemen (dari hasil pemotongan mobil A).
Bagaimana mana sistem jualbeli-nya, saya sendiri kurang paham, tapi yang
pasti, begitulah informasi yang saya dapat dari para sopir/kernet mobil. Mungkin,
masih banyak lagi kecurangan lainnya yang terjadi di Depot, tapi hanya itu yang
saya dengar, mungkin teman-teman punya informasi lain mengenai hal ini.

- Transportir
Dulu, sering ada istilah “kencing”. Kencing ini maksudnya para sopir/kernet
menjual BBM pada mobil tangki yang seharusnya dikirim ke SPBU, sebelum mereka
sampai di SPBU yang dituju. Entah sekarang, apakah masih terjadi atau tidak, yang
pasti untuk mencegah terjadinya hal seperti ini, perlu juga sekali-kali petugas SPBU
mengawal tangki yang akan menuju ke SPBU mereka.


#inspired #inspirational #youngpreneur #entrepreneur #pengusahamuda #finansialtips #finance #smartbussines #microblog #investasi #passiveincome #software #apps #motivasi #sukses #bisnis #bisnisonline #pengusaha #profit #technology #free dollar business every day #digitalexchangeid


MEMBER AREA INDONESIA
#Daerah Nangroe Aceh Darussalam
#Daerah Sumatera Utara
#Daerah Sumatera Barat
#Daerah Riau (Daratan)
#Daerah Kepulauan Riau
#Daerah Jambi
#Daerah Sumatera Selatan
#Daerah Bangka Belitung
#Daerah Bengkulu
#Daerah Lampung
#Daerah DKI Jakarta
#Daerah Jawa Barat
#Daerah Banten
#Daerah Jawa Tengah
#Daerah DI Yogyakarta
#Daerah Jawa Timur
#Daerah Bali
#Daerah Nusa Tenggara Barat
#Daerah Nusa Tenggara Timur
#Daerah Kalimantan Barat
#Daerah Kalimantan Tengah
#Daerah Kalimantan Selatan
#Daerah Kalimantan Timur
#Daerah Kalimantan Utara
#Daerah Sulawesi Utara
#Daerah Sulawesi Barat
#Daerah Sulawesi Tengah
#Daerah Sulawesi Tenggara
#Daerah Sulawesi Selatan
#Daerah Gorontalo
#Daerah Maluku
#Daerah Maluku Utara
#Daerah Papua Barat
#Daerah Papua
Komentar